TUJUH SUMUR
Pada suatu hari di sekolah terdengar bel berdering menandakan waktu pulang telah tiba. Jeje dan Ardi merasa senang, dengan raut muka yang sumringah mereka bersalaman dan mengucapkan salam kepada gurunya lalu bergegas untuk pulang sekolah.

Seperti kebiasaan mereka berdua, pulang sekolah langsung ke masjid di belakang sekolah untuk melakukan sholat dzuhur berjamaah. “Jeje, ayo cepat. Nanti kita ketinggalan sholat berjamaah!” ajak Ardi dan jeje mengiyakannya. Selesai melakukan sholat mereka langsung pulang dengan berjalan kaki.
“Ardi, tadi saya dengar doamu meminta untuk pintar. Kenapa?” tanya Jeje.
“Aku sudah bosan dibilang bodoh oleh teman-teman, apa lagi pelajaran matematika seperti tadi. Makanya ketika bel pulang berbunyi aku senang sekali, seperti terbebas dari penjara” jawab Ardi.
Percakapan mereka terus berlanjut dan sampailah mereka di tepi pantai. Ardi mengajak Jeje untuk beristirahat sejenak di gubuk tepi pantai. Mereka merebahkan badannya sambil meneruskan percakapannya.
“Ardi, kalau kamu ingin pintar dengan cara cepat ada caranya,” ucap Jeje.
“Bagaimana caranya Je?” tanya Ardi.
“Kakekku perna bilang. Kalau ingin menjadi orang pintar harus melakukan ritual dengan berpuasa dan mandi kembang di tujuh sumur pada hari jum’at,” jawab Jeje sambil meyakinkan.
Ardi yang semulah rebahan memilih bangun. “Berarti tanpa belajar aku bisa pintar?” tanyanya.
“Ia benar, kakekku orang pintar. Buktinya banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta petunjuk,” jawab Jeje. “Kakekku juga pawang hujan, dapat menebak hari baik, dan banyak lagi lainnya. Berarti kakekku pintar kan?” tambahnya.
“Ok, aku percaya kakekmu pintar. Besok aku lakukan ritualnya, mumpung besok hari Jumat,” tegas Ardi yang percaya atas omongan Jeje.
“Besok kan masih harus sekolah” tanya Jeje.
“Mau bolos sekolah saja. Aku mau bilang ke bapak dan ibu bahwasanya besok di sekolah akan diadakan shalat isyraq dan diminta hadir sebelum matahari terbit. Agar aku bisa melakukan ritual mulai pagi-pagi dan mereka tidak curiga sehingga bisa pulang seperti biasa pulang sekolah.”
“Apa itu shalat isyraq?” tanya Jeje dan kemudian Ardi menjelaskan bahwasanya shalat isyraq adalah sholat sunah dua rakaat yang dikerjakan setelah matahari terbit sekitar satu tombak.
“Ok, itu ide bagus. Aku ikut, kita lakukan bersama-sama saja, aku juga ingin lebih pintar lagi matematika. Nanti, kalau pintar matematika akan disenangi oleh teman-teman dan ujung-ujungnya ditraktir jajan,” sanggup Jeje yang juga ingin ikut melakukan ritualnya. “Nanti biar aku yang beli kembangnya” tambahnya.
Mereka akhirnya bersepakat untuk melakukan ritual berpuasa dan mandi kembang di tujuh sumur. Mereka menentukan tujuh sumur yang akan dijadikan tujuan, salah satu sumur tujuan dan dianggap keramat bagi mereka adalah sumur yang berada di rumah Pak Benny guru agama mereka di kelas empat.
“Menurut kakek, sumur di rumahnya Pak Benny adalah sumur keramat. Sumurnya usianya sudah ribuan tahun. Jadi besok kita usahakan sebelum jumatan sudah selesai melakukan ritual, agar tidak ketahuan oleh Pak Benny,” begitu ide yang disampaikan oleh Jeje.
Setelah kesepakatan yang disepakati mereka bergegas untuk pulang karena waktu sudah terlewat siang. Mereka harus segera cepat sampai di rumahnya agar tidak membuat orang tuanya cemas. Mereka juga janjian untuk berangkat sekolah diniyah bersama sama.
Waktu yang berlalu dan setelah melewati sebagian malam dengan penuh harapan, Ardi dibangunkan oleh suara jam weker yang sudah disetel sebelum tidur. Karena hari ini harus berpuasa Ardi bergegas pergi ke dapur dan memasak mie instan untuk dijadikan makan sahur. Setelah itu segera mandi dan menunggu shalat subuh.
Setelah sholat subuh berpamitan kepada ibunya dan menyampaikan alasan berangkat sekolah yang tidak seperti biasanya. Ardi berangkat dan menuju ke rumah Jeje yang tidak jauh dari rumahnya. Jeje yang telah menunggu di teras rumahnya menyambut kedatangannya.
“Ardi, bagaimana sudah siap. Kamu sudah puasa kan?” tanya Jeje yang menyambut kedatangan Ardi.
“Ok, sudah siap semuanya. Oya, jangan lupa bawa pakaian salinan sebanyak tujuh karena setelah kita mandi harus ganti pakaian,” jawab Ardi.
Mereka akhirnya berangkat menuju sumur pertama yang tidak jauh dari rumahnya. Sesampainya di sumur pertama ternyata Jeje ketinggalan kembangnya. Jeje dengan tergesah sambil berlari mengambil kembang. Sumur pertama sampai dengan sumur keenam dapat dilalui dengan lancar, tidak ada orang yang curiga atas aksi mereka. Mereka melakukan ritual tersebut dengan penuh hati-hati agar tidak diketahui oleh orang lain.
“Ardi, sekarang pukul berapa. Soalnya aku sudah lapar” tanya Jeje sambil berjalan menuju sumur ketujuh.
“Tenag Je, sekarang masih pukul sembilan. Pak Benny belum pulang dari sekolah. Nanti setelah selesai mandi kembang di sumur ketujuh kita batalkan puasa, aku juga agak lapar,” jawab Jeje sambil meyakinkan bahwasanya aksinya akan berjalan mulus.
Sampailah mereka di sumur ke tujuh yang berada di depan rumahnya Pak Benny. Mereka berdua memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan setelah dirasa aman dan tidak ada orang lain yang melihat mereka segera melakukan ritual. Tapi, tanpa mereka sadari pak Benny yang tidak masuk sekolah karena belum sembuh dari sakitnya mengetahui aksinya.
Keberadaan pak Benny dalam kamar mandi di dekat sumur tidak diketahui oleh mereka. “Ayo, ini pada ngapain. Mandi di sini kok pakai kembang?” tanya pak Benny yang secara tiba tiba keluar dari kamar mandi. Mereka yang terkejut dan panik hanya menundukkan kepala. Pak Benny yang mengetahui mereka membawa pakaian ganti diminta untuk segera berganti di kamar mandi.
“Kalian berdua, ayo ikut bapak” ajak pak Benny yang mengajak mereka ke dalam rumahnya. Mereka berdua dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu dan kemudian di ambilkan teh hangat.
“Ayo diminum dulu tehnya!” suruh pak Benny.
“Puasa pak” jawab mereka secara bersamaan.
“Puasa?” tanya pak Benny dengan sedikit terkejut dan mereka hanya menganggukkan kepala.
“Apa maksud kalian, tadi mandi kok pakai kembang dan kenapa juga hari ini puasa. Jangan-jangan kalian?” tanya pak Benny dengan nada serius. Mereka semakin ketakutan dan tidak ada yang mau menjawab. “Ayo ngaku, bapak yakin kalian ada yang disembunyikan” tambahnya.
Ardi dan Jeje hanya saling pandang dan satu sama lainnya saling cubit. Tingkah laku yang ditunjukkan mereka membuat pak Benny semakin curiga. “Ok. kalau tidak ada yang mengaku biar saya panggil orang tua kalian ke sini” pintanya.
Karena tidak ingin diketahui dan dimarahi oleh orangtuanya Ardi akhirnya mengaku. “Ini idenya Jeje Pak,” sambil menunjuk Jeje.
“Ide apa?” tanya pak Benny dengan nada agak tinggi. “Ayo ngaku,” tambahnya.
Dengan nada agak terbatah jeje menceritakan maksud yang sebenarnya. “Begini pak, kita berdua ingin pintar matematika. Untuk itu kita melakukan ritual puasa dan mandi kembang di tujuh sumur.”
Mendengar jawaban jeje, pak Benny senyum-senyum lalu ketawa. “Siapa yang menyuruh kalian melakukan ritual ini?” tanya pak Benny kembali dan mereka hanya terdiam.
“Sebenarnya tidak ada yang menyuruh. Ini idenya Jeje pak” jawab Ardi.
“Dapat dari mana idenya Je?” tanya pak Benny.
“Dari kakek pak. Kakek perna bilang bahwasanya kalau ingin pintar harus melakukan ritual puasa dan mandi kembang di tujuh sumur.”
“Oh, begitu ceritanya. Sekarang bapak paham, tapi cara kalian itu salah. Kalau ingin pintar harus belajar,” tegas Pak Benny. “Cita-cita kalian itu apa,” tambahnya.
“Dokter pak,” jawab mereka secara bersamaan.
“Pertanyaannya. Apa bisa jadi dokter hanya dengan melakukan ritual puasa dan mandi kembang di tujuh sumur?” tanya Pak Benny dengan sambil senyum.
Mereka hanya terdiam dan terlihat berfikir sesaat. “Tidak pak” jawab Jeje.
“Terus, kalian harus bagaimana untuk bisa mewujudkan cita-cita?” tanyanya kembali.
“Kalau ingin jadi dokter harus sekolah dokter pak” jawab Ardi. “Ia benar pak, harus sekolah,” tambah Jeje.
“Nah, kalau kalian ingin mencapai cita-cita harus sekolah. Sekolah yang benar dan rajin belajar agar kalian pintar!. Sekarang minum tehnya, tidak ada lagi puasa-puasa dan mandi kembang, lebih baik rajin belajar dan semangat sekolahnya agar mencapai cita-cita kalian!” nasehat pak Benny. “Setelah itu, kalian pulang dan jangan lupa nanti sholat jum’at,” tambahnya.
Ardi dan Jeje berpamitan dan segera pulang. Diperjalanan mereka berkomitmen untuk lebih giat belajar agar bisa pintar.
Posting Komentar untuk " TUJUH SUMUR"